neuroscience kelelahan keputusan

mengapa jangan pernah bernegosiasi di akhir hari

neuroscience kelelahan keputusan
I

Pernahkah kita berdebat hebat dengan pasangan atau rekan kerja hanya karena urusan yang sangat sepele? Misalnya, ribut soal menentukan menu makan malam di jam 8 malam, atau berdebat soal tata letak file pekerjaan saat jam kantor sudah usai. Saya sering mengalaminya. Rasanya kepala seperti mendidih dan kesabaran hilang entah ke mana, padahal kalau dipikir-pikir lagi besok paginya, masalahnya benar-benar kecil. Ternyata, ini sama sekali bukan sekadar soal kita kekurangan empati atau sedang sensitif. Ada drama biologi yang sangat nyata dan terukur sedang terjadi di dalam kepala kita saat matahari mulai terbenam.

II

Mari kita bedah situasi ini pelan-pelan. Sepanjang hari, otak kita bekerja seperti seorang CEO yang duduk di kursi panas. Dari pagi kita membuka mata, kita sudah membuat ribuan keputusan. Mulai dari yang paling remeh seperti menekan tombol snooze alarm, memilih baju, hingga keputusan strategis dan negosiasi alot di tempat kerja. Setiap pilihan itu, sekecil apa pun bentuknya, ternyata menguras bahan bakar mental kita. Fenomena ini dalam dunia psikologi dan neurosains dikenal dengan istilah decision fatigue atau kelelahan keputusan. Semakin banyak keputusan yang kita buat sepanjang hari, semakin memburuk kualitas keputusan kita di sore dan malam harinya. Namun, pertanyaannya adalah, apa yang sebenarnya terjadi secara fisik di dalam otak saat kita mencapai titik lelah ini? Mengapa kelelahan mental ini bisa mengubah kita menjadi sosok yang keras kepala?

III

Sebelum masuk ke anatomi otak, mari kita lihat sebuah studi klasik dari tahun 2011 yang rasanya cukup membuat merinding. Para peneliti mengamati keputusan para hakim di pengadilan Israel. Pertaruhannya di sini sangat tinggi: apakah seorang narapidana pantas mendapatkan pembebasan bersyarat atau tidak. Logika kita pasti berkata bahwa keadilan harusnya objektif dan buta terhadap waktu, bukan? Namun data menunjukkan fakta yang mengerikan. Peluang narapidana bebas adalah sekitar 65% jika sidangnya dilakukan pada pagi hari. Namun, persentase ini terjun bebas mendekati 0% jika sidangnya dilakukan pada larut sore. Mengapa orang yang begitu terpelajar dan terlatih bisa sangat bias hanya karena jam di dinding menunjukkan waktu yang berbeda? Apakah para hakim ini tiba-tiba menjadi kejam di sore hari? Misteri ini membawa kita pada sebuah area kecil di balik dahi kita, sebuah area yang secara harfiah memegang kendali atas peradaban manusia.

IV

Inilah rahasia besarnya, teman-teman. Di balik dahi kita, terdapat area yang bernama prefrontal cortex. Bagian ini adalah pusat komando untuk logika, empati, kompromi, dan pengendalian diri. Ia bertanggung jawab untuk menimbang risiko dan memecahkan konflik dengan kepala dingin. Sayangnya, prefrontal cortex adalah organ yang sangat rakus energi. Ia mengonsumsi glukosa dengan sangat cepat. Di penghujung hari, ketika bahan bakarnya habis, bagian otak ini pada dasarnya "mematikan sakelar" untuk menghemat energi. Tapi otak kita tidak lantas berhenti bekerja. Saat logika kita tertidur, kendali otak justru dibajak oleh amygdala, yaitu bagian otak primitif yang mengurus insting bertahan hidup dan emosi mentah.

Inilah alasan ilmiah mengapa kita jangan pernah bernegosiasi atau mencoba menyelesaikan konflik di akhir hari. Saat kita mencoba berargumen di malam hari, kita tidak lagi berbicara menggunakan logika. Kita sedang berdebat menggunakan mode "bertarung atau lari" (fight or flight). Otak kita yang kelelahan hanya punya dua opsi ekstrem: menyerah sepenuhnya karena terlalu malas berpikir, atau meledak marah karena merasa diserang secara personal. Kita secara biologis tidak memiliki kapasitas untuk melihat sudut pandang orang lain.

V

Memahami sains di balik kelelahan keputusan ini rasanya memberi kita ruang untuk lebih berempati, baik pada diri kita sendiri maupun pada orang di sekitar kita. Kita bukanlah manusia yang buruk hanya karena kita mudah tersinggung di jam 9 malam. Kita hanyalah manusia biasa yang baterai rasionalitasnya sedang kosong melompong. Jadi, mari kita buat sebuah kesepakatan baru yang lebih sehat. Jika ada masalah rumit atau konflik yang memanas setelah jam kerja selesai, tahan diri kita. Tarik napas panjang. Mari sepakati kalimat ajaib ini: "Kita bahas ini besok pagi saja, ya." Biarkan prefrontal cortex kita beristirahat, isi kembali energi dengan tidur yang cukup, dan hadapi konflik esok hari dengan versi otak kita yang paling jernih dan bijaksana. Karena kadang-kadang, manajemen konflik terbaik di dunia ini adalah dengan mengetahui kapan kita harus berhenti bicara, dan mulai memejamkan mata.